Category Archives: Toponim

sate-buntel-tambaksegaran-5

Tambaksegaran dan Kenikmatan Kulinernya

Kampung Tambaksegaran — Terletak di sebelah barat kampung Widuran dan sebelah timur Pasa Legi. Diceritakan bahwa dahulu ketika Sungai Pepe belum dibuatkan susukan sering menyebabkan banjir. Agar tidak menggenangi istana Kraton Kasunanan Surakarta, maka dibuatlah bendungan (ditambak) dan daerah ini sekarang disebut Tambaksegaran.

Tempat di mana bekas tembok tambak ini berdiri sampai sekarang masih ada, tetapi sudah sudah rata dengan tanah sebab sudah digunakan untuk perkampungan penduduk. Setelah dibangun susuk terhadap Sungai Pepe, tambak itu kemudian tidak berfungsi lagi.

Sate Buntel Tambaksegaran

Yang paling terkenal dari wilayah kampung Tambaksegaran ini adalah kulinernya yaitu Sate Tambaksegaran. Kuliner sate yang berada di Jalan Sutan Syahrir 149 Solo ini, menawarkan berbagai menu kambing yang katanya Pak Bondan Winarno dulu pernah mampir memang maknyuuuss banget.

Menu andalan untuk sate kambing di Solo selalu ada yang namanya Sate Buntel, sate khas Solo yang dibuat dari daging yang dibalut lemak kemudian dibakar dengan bumbu sate yang sedap. Selain Sate Buntel, disediakan juga menu Gule Sum sum, Tongseng, dll. Jadi kalau sedang di Solo, silahkan mencoba untuk jalan-jalan di Tambaksegaran

kraton surakarta

Penamaan Surakarta dan Perpindahan Kraton Kasunanan

kraton kasunanan surakarta

Penamaan Surakarta dapat ditelusuri dari proses perpindahan keraton dari Kartosuro ke Sala. Ketika Sala sudah selesai dibangun, maka prosesi perpindahan keraton dilaksanakan pada tahun 1745 yang berangkat dari alun-alun kartosuro pada pukul tujuh pagi. Sesampai di Pasar Jongke istirahat sebentar dengan mendengarkan musik Jawa (klenengan) yang sudah disiapkan. Sekitar pukul dua siang kembali meneruskan perjalanan dan tiba di Desa Sala pada pukul lima sore.

Perjalanan dan upacara perpindahan tersebut memang sangat lambat karena diikuti oleh para wanita dan anak-anak beserta barang bawaannya masing-masing. Sesampai di Desa Sala, mereka menghadap di pasewakan Sasana Pagelaran (sumewa), sedangkan barisan keputren terus ke bangunan Prabasuyasa. Sore itu Raja belum mengadakan pertemuan upacara perpindahan. Baru esok paginya, Raja mengadakan Pasewakan Agung di Sasana Sumewa lengkap dengan para abdi dalem dan prajurit Belanda.

Untuk pengaturan tempat tinggal abdi dalem, Raja memerintahkan kepada Patih Jawi dan Lebet untuk mengaturnya, sedang untuk prajurit kompeni diserahkan kepada Mayor Hogendrop. Selanjutnya pada pasewakan esok harinya Raja bersabda sebagai berikut:

Heh kawulaningsun. kabeh padha ana piyarsakna pangandikaningsun, ingsun karsa ing mengko wiwit dina iki, desa ing Sala ingsun pundhut jenenge, ingsun tetepake dadi negaraningsun, ingsun paringi jeneng Negara Surakarta Hadiningrat. Sira padha angestokna sakawulaningsun satlatah ing nusa Jawa kabeh. (Pawarti Surakarta, 1939:26)

yang artinya :

Wahai rakyatku, dengarkanlah sabdaku ini, Mulai hari ini desa Sala saya ambil namanya dan saya tetapkan menjadi negara saya dan saya beri nama Negara Surakarta Hadiningrat. Patuhi dan laksanakan wahai seluruh rakyat se-pulau Jawa.

abdi dalem

abdi dalem kraton surakarta

Pemberian nama Surakarta Hadiningrat mengikuti naluri leluhur, bahwa Kerajaan Mataram yang berpusat di Karta, kemudian ke Pleret, lalu pindah ke Wanakarta, yang kemudian diubah namanya menjadi Kartasura. Surakarta Hadiningrat berarti harapan akan terciptanya negara yang tata tentrem karta raharja (teratur tertib aman dan damai), serta harus disertai dengan tekad dan keberanian menghadapi segala rintangan yang menghadang (sura) untuk mewujudkan kehidupan dunia yang indah (Hadiningrat). Dengan demikian, kata “Karta” dimunculkan kembali sebagai wujud permohonan berkah dari para leluhur pendahulu dan pendirian kerajaan Mataram.

Kemudian prosesi selanjutnya yaitu doa syukur serta diadakan upacara penanaman Pohon Beringin Kurung Sakembaran di alun-alun utara yang dipimpin oleh Patih Pringgalaya dan Patih Danureja. Kedua pohon beringin itu kemudian diberi nama Jayandaru dan Dewandaru yang berarti kejayaan dan keluhuran. Sedangkan pohon beringin di alun-alun kidul ditanam oleh Bupati Mancanagara.

 

———

sumber :  Toponim Surakarta-Keragaman Budaya dalam Penamaan Ruang Kota, Dirjen Sejarah dan Purbakala tahun 2010.

gambar: Foto jepretan Dony Alfan yang diunggah di flickr