Penulis: camagenta | 6 Jan 2009 | 20 Komentar »
Warning: strpos() expects parameter 3 to be long, string given in /home/bengaslo/public_html/wp-content/themes/bengawan/functions.php on line 71
Sengaja jauh-jauh datang dari Jakarta, Fotografer Majalah Tempo Yosep Arkian tiba di Solo dengan satu tujuan: memotret Walikota Solo Joko Widodo dengan pose sebagai tukang becak.
Sebuah becak plus sopirnya disewa untuk keperluan pemotretan itu. Sebelum Jokowi dipotret, Yosep meminta sang tukang becak berperan sebagai model awal guna keperluan pengaturan cahaya dan posisi. Pemotretan sang pengayuh becak dilaksanakan di tepi rel kereta api.
Lucunya, saat sang tukang becak hendak dipotret, kereta api yang biasa menggunakan jalur rel di sana tiba-tiba nyelonong. Gawatnya, sang tukang becak enggan pindah dari posisinya. “Yang penting difoto dulu, Mas,” begitu kira-kira kata sang pengayuh becak pada Yosep. Gara-gara kejadian ini, Yosep sempat panik dan lemas.
Setelah kejadian menghebohkan itu, tiba giliran Jokowi dipotret. Yosep telah menyiapkan oblong dan kaus kaki untuk pak wali yang akan berperan sebagai pengayuh becak. Namun, saat melihat kostum dari Yosep, Jokowi menganggap pakaian itu “terlalu bersih” untuk seorang tukang becak. Maka, ia kembali ke rumahnya, mengambil kaus lusuh miliknya, lalu memakainya. Siaplah ia dipotret sebagai pengayuh becak!
***
Kisah lucu tadi adalah salah satu bagian dari “seremonial” penganugerahan gelar “Tokoh 2008” kepada Jokowi oleh Majalah Tempo. Dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Akhir tahun 2008, Jokowi beserta sembilan walikota dan bupati lain di Indonesia diganjar gelar “10 Tokoh 2008”.
10 orang kepala daerah tingkat II itu disaring dari tiga ratus lebih bupati dan walikota di seluruh Indonesia. Tim Tempo membutuhkan waktu tiga bulan lebih untuk mendapatkan nama-nama mereka yang layak dianugerahi gelar “Tokoh Indonesia 2008”.
Selain Jokowi, sembilan nama lainnya adalah: Bupati Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Andi Hatta Marakarma,; Bupati Jombang, Jawa Timur, Suyanto; Bupati Badung, Bali Anak Agung Gde Agung; Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin; Wali Kota Blitar Djarot Saiful Hidayat; Bupati Sragen Untung Sarono Wiyono Sukarno; Bupati Gorontalo David Bobihoe; Wali Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Jusuf Serang Kasim; dan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto.
Masing-masing kepala daerah ini dipilih karena kepemimpinan mereka menghasilkan kemajuan-kemajuan yang signifikan di daerah masing-masing. Untung Wiyono, misalnya, dipilih karena ia berhasil mengembangkan jaringan internet sampai ke pedesaan di Sragen. Jusuf Serang dipilih karena ia berhasil membangun banyak rumah sakit di Tarakan yang mampu menyembuhkan kota itu dari penyakit kronis. Bupati Jombang Suyanto, dipilih karena ia berhasil mengembangkan pusat kesehatan masyarakat di Jombang menjadi setara dengan rumah sakit kecil.
Sementara itu, Jokowi terpilih karena kesuksesannya mengatur pedagang kaki lima di Solo—Tempo bahkan menjulukinya “Wali Kaki Lima”. Tentu saja, kita masih ingat bagaimana pawai PKL Banjarsari yang “legendaris” itu. Mengenakan pakaian adat, menyunggi tumpeng sebagai lambang kemakmuran, dan dikawal pasukan adat Kraton Solo, para pedagang kaki lima itu pindah dari Banjarsari ke Pasar Klitihikan di Semanggi. Peristiwa yang kemudian menjadi perhatian nasional inilah yang menjadi salah satu “nilai lebih” pemerintahan Jokowi di Solo.
Uniknya, seperti terungkap di Majalah Tempo, prosesi pemindahan PKL Banjarsari ternyata diawali dengan serangkaian makan siang antara Jokowi dan para pedagang. Konon, Jokowi mengajak para PKL makan siang di Loji Gandrung sampai 50 kali lebih. Pada makan siang yang ke-54, Jokowi baru berani mengungkapkan niatannya untuk merelokasi pedagang. Jadi, selama 53 kali makan siang, para PKL itu hanya “SMP” (setelah makan lalu pulang) di Loji Gandrung.
Penghargaan yang diterima Jokowi ini melengkapi sejumlah penghargaan lain yang telah diterima Solo selama masa pemerintahannya. Sebelumnya, Solo memang telah mendapat sejumlah penghargaan, seperti penghargaan “Kota Pro-Investasi” dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah; “Kota Layak Anak” dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan; “Wahana Nugraha” dari Departemen Perhubungan; serta penghargaan kota kategori “Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh” dari Departemen Pekerjaan Umum.
Atas penghargaan terbaru ini, sudah selayaknya kita mengucapkan: “Selamat, Pak Wali! Semoga tetap menjadi bagian dari—seperti kata Majalah Tempo—‘sedikit orang baik di Republik yang luas’ ini”!
Haris Firdaus
http://rumahmimpi.blogspot.com