Ada sebuah kekhawatiran berkait perkembangan kota-kota di Indonesia yang dirasa menuju arah yang seragam dan tak menampakkan ciri khas kedaerahan masing-masing. Pembangunan berbagai piranti bisnis modern—semacam mal, apartemen, gedung perkantoran, dan sebagainya—di berbagai daerah menunjukkan bahwa kota-kota di daerah memiliki kecenderungan menjadi sama dengan kota-kota besar yang terlanjur mengadopsi kultur metropolitan. Keinginan mendapatkan pendapatan yang tinggi menjadikan pengelola kota sangat terbuka terhadap masuknya modal, tanpa peduli bahwa modal bisa menggerus lokalitas.
Kekhawatiran semacam itulah yang disampaikan Wali Kota Solo Joko Widodo saat memberi sambutan dalam Diskusi “Solo Mencari Jati Diri” di Balai Soedjatmoko, Solo, pada 21 Mei 2009 lalu. Menurut Joko Widodo, tiap-tiap kota seharusnya memiliki ciri khas masing-masing agar pengunjung yang datang ke sebuah kota bisa menikmati sekaligus belajar kekhasan kota tersebut. Untuk itulah, tiap kota harus memiliki cetak biru pembangunan kota selama beberapa puluh tahun mendatang. Cetak biru semacam inilah yang menurut Joko sedang diusahakan Kota Solo supaya kota ini memiliki pembeda yang tegas dengan kota lain. Melalui rencana jangka panjang inilah, diharapkan Solo bisa memiliki positioning dan diferensiasi yang jelas dengan kota-kota lainnya.
Ada yang menarik dari pernyataan Joko Widodo, terutama tentang konsep positioning dan diferensiasi kota yang diungkapnya. Istilah “positioning” dan “diferensiasi”, merupakan istilah yang datang dari ranah marketing. Konsep positioning berkaitan dengan proses membuat sebuah produk menempati kedudukan yang unik serta berbeda dengan produk lainnya di benak khalayak. Positioning berhubungan erat dengan diferensiasi, yakni proses membuat sebuah produk memiliki perbedaan yang tegas dengan produk lainnya. Untuk bisa menemukan positioning yang tepat, sebuah produk harus memiliki diferensiasi yang tinggi. Semakin tinggi perbedaan sebuah produk dengan produk lainnya, semakin gampang positioning produk tersebut di benak khalayak.
Penggunaan konsep positioning dan diferensiasi oleh Joko Widodo saat membicarakan jati diri atau identitas Kota Solo yang hendak dibangun, menunjukkan bahwa pola pikir marketing merupakan dasar pikir yang melatarbelakangi upaya membangun identitas Solo. Solo perlu memiliki cetak biru yang menegaskan identitasnya—yang otomatis membuatnya berbeda dengan kota lainnya—supaya kota itu dapat “dipasarkan” ke investor atau wisatawan. Pola pikir utamanya adalah: supaya bisa “dipasarkan”, Solo sebagai sebuah produk harus memiliki diferensiasi dengan kota lainnya sehingga positioning Solo di benak para wisatawan dan investor menjadi jelas.
Mencari, membentuk, dan kemudian menonjolkan identitas sebuah kota demi memasarkan kota tersebut tentu saja bukan sebuah kesalahan. Bagaimanapun, manajemen perkotaan modern memerlukan sokongan investasi dan perkembangan pariwisata yang sehat. Untuk itulah dibutuhkan sebuah konsep marketing kota yang baik, termasuk branding dan positioning. Dalam rangka marketing, tentu saja tak salah seandainya sebuah kota menonjolkan suatu identitas unik yang terekspresikan dalam berbagai ranah, semisal aristektur dan tata kota, kegiatan kebudayaan, atau tata nilai tertentu.
Namun, yang perlu diingat, penggalian dan penonjolan identitas sebuah kota seharusnya tidak dilakukan semata-mata demi pemasaran kota tersebut. Identitas sebuah kota perlu digali dan ditonjolkan sebagai usaha pengingatan kolektif bagi warga kota tentang muasal proses menjadi mereka, atau dalam kultur Jawa sering diistilahkan sebagai sangkan paraning dumadi. Akan tetapi, proses pengingatan ini jangan sampai hanya sekadar formalitas nostalgia saja. Mengambil pendapat seniman Suprapto Suryodarmo dalam Diskusi “Solo Mencari Jati Diri”, penggalian identitas sebuah kota seharusnya bisa menjadi landasan yang memuluskan semangat kreativitas atau penciptaan warga kota.
Suprapto berharap, penggalian kembali kultur Jawa sebagai identitas Solo bisa menjadi inspirasi bagi warga kota untuk menciptakan bentuk-bentuk kebudayaan baru yang berorientasi masa depan. Dalam proses semacam ini, terjadi semacam transformasi: identitas yang berorientasi masa lalu didayagunakan sebagai bahan mencipta produk-produk kultural yang memandang jauh ke depan. Identitas tidak menjadi barang mati, tapi sebagai sebuah inspirasi yang menjaga agar kebudayaan-kebudayaan baru yang tercipta tidak melupakan muasal awalnya.
Sebuah transformasi kultural dalam satu masyarakat yang berpijak pada identitas masyarakat tersebut akan menghasilkan bentuk-bentuk kebudayaan baru yang progresif tapi sekaligus “tidak lupa daratan”. Di hadapan globalisasi yang diusung kapitalisme transnasional yang membawa gelontoran bentuk kultural baru, penggalian identitas kota bisa menjadi tameng yang membuat kita tak silau oleh gemerlap budaya asing. Walau tak harus bersikap overdefensif terhadap budaya asing, pemahaman akan identitas sendiri bisa menjadi lambaran yang memastikan kita tak kehilangan pijakan dan larut dalam euforia “kebudayaan global” yang kadang-kadang bersifat ideologis dan merusak itu.



hmmm…setuju-setuju, budaya di Solo lebih diposisikan ke produk komersil walopun hal itu gak salah. Tapi nanti takutnya akan ada perubahan dinamika sosial masyarakat Solo yang meninggalkan “budaya sebagai cara hidup” karena terlalu fokus pada “budaya sebagai produk jual”.
Takutnya budaya yang dipertahankan nanti adalah budaya yang muncul karena niat “jual” itu, bukan dari hati masing-masing. Kultur yang dibentuk oleh pasar. Ekstremnya lagi, kapitalisme berkedok pelestarian budaya.
Tetap maju ke depan, tanpa melupakan aspek kultural, mantab!
perubahan terkadang diperlukan untuk mengikuti perkembangan jaman, tetapi bisa gak pola pikir dan kebudayaan yg menjadi ciri khas kota solo dipertahankan. mungkin tergantung dari diri kita sendiri sebagai warga solo mau dipakai apa budaya kita “dijual” atau “dimanfaatkan” untuk menarik perhatian agar orang mau berkunjung dan lebih mengenal tradisi dan budaya di solo.
memang di indonesia harus digalakkan city branding, seperti di singapura, new york, atau tokyo
Tradisi tetap mengacu pada akar budaya solo, tetapi teknologi tetap harus terdepan.
benarkah solo telah menemukan identitasnya yg hilang sejak indonesia merdeka???
dilihat dari bentuknya kota solo identik dg kebudayaan jawa. lha untuk membangun solo sesuai dg jati diri jawa di masa depan. Bagaimana anak muda sekarang, mau tidak mempertahankan kejatidiria kota solo dengan adat Jawa di masa depan.???
pertahankan terus budaya kita..
benarkah solo punya identitas???
Jangan ditinggalkan aspek kultural historis solo
Nilai historis kultural solo tetap harus diperhatikan
Untuk direnungkan baca tulisan disini http://sukolaras.wordpress.com/2010/11/26/sumpah-budaya/
memang benar solo mengikrarkan sebagai kota budaya. tapi bagaimana dengan penerusnya? apakah hanya para abdi dalem yang akan menjadi ujung tombak budaya di Solo? namun tak dipungkiri bahwa perkembangan teknologi membuat kita lupa akan culture. setidaknya kita sebagai orang yang peduli sedikit memahami dan melestarikan budaya itu sebagai nilai ke khas an pada suatu daerah. terutama unggah ungguh e wong solo sing terkenal alus