Menutup tahun 2008, Pemerintah Kota Surakarta menerbitkan buku Kitab Solo. Sebuah buku, yang menurut Bengawan, layak dijadikan rujukan bagi banyak pihak untuk tahu Solo lebih banyak.
Memang, buku ini tidak memandu Anda harus berbelanja apa, dimana dan mengajak kekasih yang mana. Tapi, dari buku tulisan Mas Arswendo Atmowiloto ini, kita bisa lebih paham , mengapa Wong Solo itu lebih adaptif, fleksibel dan ujung-ujungnya, bisa meng-create sesuatu menjadi seolah-olah baru. Munculnya selop dan beskap adalah betapa Wong Solo piawai menjadikan sesuatu sebagai ‘yang baru’ meski sejatinya adalah meniru, dengan kemampuan modifikasi sebagai bumbu (hal. 73).
Teladan toleransi, pun cukup gamblang dituturkan Mas Wendo, seolah mengingatkan betapa congkrah, perilaku amock bukanlah naluri genuine khas Solo seperti ditunjukkan pada kasus obong-obongan pada awal 1980-an dan tragedi Mei 1998. Adalah Sultan Agung yang mengawali penyatuan kalender Islam, Hindu dan Kejawen menjadi satu, tanpa merendahkan satu terhadap yang lain, sejak 1633 (hal. 67).
Mau tahu tentang apa itu sekaten, makna filosofis tirakatan juga ‘tumbal’ kepala ledhek untuk menutup sumber air di Desa Sala pun gamblang trawaca di buku itu. Perspektif lain mengenai tanggapan terhadap tulisan Mas Wendo di buku itu, kita tunggu saja hasil ‘pembacaan’ Paman Tyo. Sebagai priyayi Salatiga dan besar dalam kultur Mataraman Ngayogyakarta Hadiningrat yang egaliter plus pengalaman bergaul dengan kaum individualis metropolis, kami yakin beliau pasti memiliki catatan yang jauh berbeda dengan kami.
Kalaupun buku ini membuat gela, pastilah semua disebabkan oleh sedikitnya jumlah cetakan. Hanya 1.000 buku dicetak, dan diedarkan secara terbatas.
Kita berharap, buku itu segera di-massal-kan, dicetak ulang dan dikemas lebih baru, yang handy dan dijual bebas, meski perlu dilakukan banyak sekali revisi, khususnya kekeliruan penulisan dan salah cetak. Syukur, buku itu bisa dicetak pula dalam versi bahasa (minimal) Inggris, supaya lebih banyak orang yang menjadi kaya referensi mengenai Solo dan seluk-beluknya.
Syukur-syukur, bisa diedarkan dalam versi online. Hitung-hitung, memudahkan para pemandu wisata dan juru bicara dalam menjelaskan apa itu Solo?
Kita tunggu saja perkembangannya…..



mangstaff kie…
neng gramed wes metu urung ?
Nek tuku ketoke ra kuat… ono sing wes duwe bukune??? mbok aku nyilih…
nyilih mas Blontank wae… mengko gantian karo aku… (lmao)
Salam kenal mas…,
Wah usaha yang sangat bagus ya…Semoga bisa bermanfaat n nambah promo wisata Solo.
O ya, kira-kiranya harganya murah ndak ya?
Tuku bekas neng mburi sriwedari ono ra yo?
Hehe
Buku itu dikemas dengan oke dan lux. Biar harganya mahal ya?
wah. . .koyo’e uapik. . .pengen due. . .tapi kog kere yoooo!
kalau gak salah, buku itu gak beredar luas dech. jadi kayake gak akan ada di gramed maupun toko2 lain. itu informasi yang sy dengar. benerkah begitu pak blontank?
bukunya emang ok, karena kemarin aku dapet gratisan pas peresmian pasar ngarsopuro. hanya sayang, cetakan bagian dalam kurang bagus, sehingga bukunya tampak “kurang bersemangat”, hehehe
iyo dadi pengen sejak liat di launching bengawan kemaren, piro tho regane??
Mas kulo baden perso wedare kitab solo