Jokowi: Tokoh 2008 Versi Tempo

Sengaja jauh-jauh datang dari Jakarta, Fotografer Majalah Tempo Yosep Arkian tiba di Solo dengan satu tujuan: memotret Walikota Solo Joko Widodo dengan pose sebagai tukang becak.

Sebuah becak plus sopirnya disewa untuk keperluan pemotretan itu. Sebelum Jokowi dipotret, Yosep meminta sang tukang becak berperan sebagai model awal guna keperluan pengaturan cahaya dan posisi. Pemotretan sang pengayuh becak dilaksanakan di tepi rel kereta api.

Lucunya, saat sang tukang becak hendak dipotret, kereta api yang biasa menggunakan jalur rel di sana tiba-tiba nyelonong. Gawatnya, sang tukang becak enggan pindah dari posisinya. “Yang penting difoto dulu, Mas,” begitu kira-kira kata sang pengayuh becak pada Yosep. Gara-gara kejadian ini, Yosep sempat panik dan lemas.

Setelah kejadian menghebohkan itu, tiba giliran Jokowi dipotret. Yosep telah menyiapkan oblong dan kaus kaki untuk pak wali yang akan berperan sebagai pengayuh becak. Namun, saat melihat kostum dari Yosep, Jokowi menganggap pakaian itu “terlalu bersih” untuk seorang tukang becak. Maka, ia kembali ke rumahnya, mengambil kaus lusuh miliknya, lalu memakainya. Siaplah ia dipotret sebagai pengayuh becak!

***

Kisah lucu tadi adalah salah satu bagian dari “seremonial” penganugerahan gelar “Tokoh 2008” kepada Jokowi oleh Majalah Tempo. Dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Akhir tahun 2008, Jokowi beserta sembilan walikota dan bupati lain di Indonesia diganjar gelar “10 Tokoh 2008”.

10 orang kepala daerah tingkat II itu disaring dari tiga ratus lebih bupati dan walikota di seluruh Indonesia. Tim Tempo membutuhkan waktu tiga bulan lebih untuk mendapatkan nama-nama mereka yang layak dianugerahi gelar “Tokoh Indonesia 2008”.

Selain Jokowi, sembilan nama lainnya adalah: Bupati Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Andi Hatta Marakarma,; Bupati Jombang, Jawa Timur, Suyanto; Bupati Badung, Bali Anak Agung Gde Agung; Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin; Wali Kota Blitar Djarot Saiful Hidayat; Bupati Sragen Untung Sarono Wiyono Sukarno; Bupati Gorontalo David Bobihoe; Wali Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Jusuf Serang Kasim; dan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto.

Masing-masing kepala daerah ini dipilih karena kepemimpinan mereka menghasilkan kemajuan-kemajuan yang signifikan di daerah masing-masing. Untung Wiyono, misalnya, dipilih karena ia berhasil mengembangkan jaringan internet sampai ke pedesaan di Sragen. Jusuf Serang dipilih karena ia berhasil membangun banyak rumah sakit di Tarakan yang mampu menyembuhkan kota itu dari penyakit kronis. Bupati Jombang Suyanto, dipilih karena ia berhasil mengembangkan pusat kesehatan masyarakat di Jombang menjadi setara dengan rumah sakit kecil.

Sementara itu, Jokowi terpilih karena kesuksesannya mengatur pedagang kaki lima di Solo—Tempo bahkan menjulukinya “Wali Kaki Lima”. Tentu saja, kita masih ingat bagaimana pawai PKL Banjarsari yang “legendaris” itu. Mengenakan pakaian adat, menyunggi tumpeng sebagai lambang kemakmuran, dan dikawal pasukan adat Kraton Solo, para pedagang kaki lima itu pindah dari Banjarsari ke Pasar Klitihikan di Semanggi. Peristiwa yang kemudian menjadi perhatian nasional inilah yang menjadi salah satu “nilai lebih” pemerintahan Jokowi di Solo.

Uniknya, seperti terungkap di Majalah Tempo, prosesi pemindahan PKL Banjarsari ternyata diawali dengan serangkaian makan siang antara Jokowi dan para pedagang. Konon, Jokowi mengajak para PKL makan siang di Loji Gandrung sampai 50 kali lebih. Pada makan siang yang ke-54, Jokowi baru berani mengungkapkan niatannya untuk merelokasi pedagang. Jadi, selama 53 kali makan siang, para PKL itu hanya “SMP” (setelah makan lalu pulang) di Loji Gandrung.

Penghargaan yang diterima Jokowi ini melengkapi sejumlah penghargaan lain yang telah diterima Solo selama masa pemerintahannya. Sebelumnya, Solo memang telah mendapat sejumlah penghargaan, seperti penghargaan “Kota Pro-Investasi” dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah; “Kota Layak Anak” dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan; “Wahana Nugraha” dari Departemen Perhubungan; serta penghargaan kota kategori “Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh” dari Departemen Pekerjaan Umum.

Atas penghargaan terbaru ini, sudah selayaknya kita mengucapkan: “Selamat, Pak Wali! Semoga tetap menjadi bagian dari—seperti kata Majalah Tempo—‘sedikit orang baik di Republik yang luas’ ini”!

Haris Firdaus

http://rumahmimpi.blogspot.com

Tags:

20 komentar

  1. hasssan says:

    pertamaxxx,

    bener-bener salut sama Jokowi…

  2. ayik says:

    biarpun bukan warga kota solo, saya salut sama JokWi, begitu banyak hal baru (yang baik) yang dia bawa buat membenahi kota Solo kuncoro ini…

  3. ressay says:

    jokowi. Memang banyak perubahan setelah Jokowi menjadi walikota. yang penting, pengawalan kita terhadap setiap kebijakan beliau.

  4. mayssari says:

    banyak berharap semangat PAK JOKOWI meresap sampai ke kalangan bawah dalam struktur pemerintahannya..

  5. weleh, mayssari, problemnya justru ada di bawahnya. birokrasi memang partai terkuat dan berkuasa di republik ini

  6. r1d0aja says:

    Hmm, setelah desember kemaren pulang ke solo emang kliatan banget PKL rada tertata. Tapi masalah solo tidak hanya PKL aja tho? Smangat terus pak Jokowi,,, :D

  7. iphin kool says:

    wah….pak jokowi emang keren…

    liat saja solo sekarang jadi lebih rapi…

    i love solo…

  8. jaka says:

    Transportasi umum di Solo gimana, sudah lebih baik dari 1990-an atau malah makin carut-marut? Angkuta itu sebaiknya dikendalikan agar Solo tidak menjadi Bogor atau Bandung yg kewalahan ngurus angkot.

  9. Mursid says:

    Aq uda dr dlu nyangka kl j0k0wi thu hebat. . .
    Salutt dah!

  10. iya..pak jokowi memang hebat..terasa betul perubahan yang terjadi di solo sejak beliau menjabat

  11. Ecko says:

    Bener-bener walikota yang patut dijadikan teladan bagi teman-teman sejawatnya. Kalau saja semua pemimpin daerah seperti Jokowi, tentu di tv tak akan ada berita pemukulan PKL oleh Satpol PP.

  12. ciwir says:

    siippp… salut sama kinerja bpk jokowi…
    pertahankan terus!!!!!!!!!!!

  13. mpep says:

    saya menyesal, saat tahun 2005 saya yang punya ktp solo dan tidak kehilangan hak pilih namun tidak memilih jokowi dalam pilkada–karena golput. pak wali satu ini luar biasa. mengubah sesuatu yang sudah putus asa diwujudkan, menjadi mungkin. pkl. pasar tradisional. taman kota. rusunawa.

    saya yang kini bukan warga solo lagi benar-benar iri. pekerjaan rumah bagi jokowi kini adalah: mewujudkan mimpi menjadikan sungai-sungai di solo bisa direnangi (kembali). pencemaran limbah batik di laweyan belum tersentuh. pencemaran acidatama di palur (bukan teritori solo sih) juga belum tuntas.

    mimpi kedua: bus kota yang layak. jogja, semarang, selangkah lebih maju dengan trans jogja dan trans semarang. solo baru punya damri ac. itupun cuma berapa biji.

    mimpi ketiga: saya berharap, suatu saat saya plesir ke solo bisa maen ke vasternberg yang sudah berwajah seperti saudaranya vredeburg di jogja!

    keempat: saya berjanji dalam hati, 2013 saat jokowi mencalonkan menjadi gubernur jateng saya akan memilihnya! (masa jabatan jokowi 2005-2010. saya haqqul yakin jokowi terpilih kembali 2010-2015. masa jabatan bibit-rustri 2008-2013. jadi tahun 2013 jokowi mencalonkan gubernur).

  14. Bejo says:

    wah hebat bener bapak kita ini….salut salut….

  15. yumaima says:

    Tetep I lup solo….

  16. arie says:

    saya jujur kurang setuju ma gelar kota yang katanya “Kota Layak Anak” dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan; karena jika malam hari di daerah tempat saya ngekost (ngoresan) banyak sekali ditemui para orang-tua bercampur dgn anak muda yang ‘ngombe’ di pinggir jalan, beda sekali ma kota lain.kalo bapaknya aja mabuk dipinggir jalan, berarti anaknya mabuk ditengah jalan dong…ini benar2 pengalaman saya selama tinggal di daerah ngoresan,jebres. saya memang bukan berasal dari solo, tapi saya prihatin dengan keadaan itu. saat ini saya kuliah di fisip uns program s1nonreguler..

  17. raiderhost says:

    wech kok ak ra ngerti ono postingan iki yach ??

    matur suwun.. mbah google

  18. pardi says:

    Impikan ‘JOKOWI’ Bupati Ponorogo

beri komentar

Mangga Pinarak

Bengawan adalah komunitas blogger Surakarta dan sekitarnya. Jika Anda adalah blogger yang tinggal atau pernah tinggal di Surakarta, mempunyai keterikatan dan ketertarikan tentang Surakarta, mari bergabung, bersama-sama memperkuat kebersamaan, persaudaraan, dan semangat saling berbagi.

tweet @bengawan

Selamat ulang tahun yang ke-4 buat @dagdigdug. Semoga makin jaya dan selalu menjadi sahabat blogger Indonesia.

Komunitas Blogger Bengawan adalah sahabat Dagdigdug